1. Latar Belakang Keluarga dan Asal-Usul

Dipa Nusantara Aidit lahir pada 30 Juli 1923 di Tanjung Pandan, Belitung (sekarang termasuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung). Nama aslinya adalah Ahmad Aidit sebelum kemudian dikenal luas sebagai D.N. Aidit. Ia berasal dari keluarga Melayu Belitung.

Ayahnya dikenal sebagai Abdullah Aidit (atau Abdullah Aidid dalam beberapa ejaan lama), seorang pegawai pemerintah lokal pada masa kolonial Hindia Belanda. Keluarganya tergolong kelas menengah terdidik, bukan bangsawan, tetapi memiliki akses terhadap pendidikan formal—hal yang cukup penting dalam membentuk pemikiran dan jalur hidup Aidit.

Belitung pada masa itu merupakan wilayah pertambangan timah yang dikelola oleh perusahaan kolonial Belanda. Struktur sosialnya terdiri dari orang Melayu lokal, pekerja Tionghoa, dan administratur Belanda. Lingkungan sosial ini memperkenalkan Aidit sejak dini pada realitas ketimpangan ekonomi dan kolonialisme.

Sejauh penelitian sejarah menunjukkan, tidak ada catatan akademik yang membuktikan bahwa Aidit memiliki garis keturunan Yaman (Hadrami). Keluarganya dikategorikan sebagai Melayu lokal. Klaim tentang keturunan Yaman sering muncul dalam diskursus politik atau spekulasi, tetapi tidak didukung dokumen sejarah yang kuat.

2. Masa Kecil dan Pendidikan Awal

Aidit menempuh pendidikan dasar di sekolah Belanda, kemungkinan HIS (Hollandsch-Inlandsche School), yang diperuntukkan bagi pribumi terpilih. Pendidikan model kolonial ini memperkenalkan bahasa Belanda, wawasan politik modern, serta literatur Barat.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi (MULO atau setara SMP saat ini). Pada masa remajanya, Aidit sudah menunjukkan minat besar terhadap politik dan organisasi. Ia termasuk generasi muda yang hidup dalam situasi pergerakan nasional yang sedang tumbuh.

Pendidikan kolonial sering menghasilkan dua kemungkinan: integrasi ke sistem kolonial atau perlawanan terhadapnya. Aidit termasuk yang kedua. Ia terpengaruh oleh semangat anti-kolonial dan gagasan sosialisme yang saat itu berkembang di kalangan intelektual muda.

3. Perpindahan ke Jawa dan Aktivitas Politik Awal

Pada akhir 1930-an, Aidit pindah ke Jawa, pusat aktivitas politik nasional. Di sana ia bersentuhan langsung dengan dinamika pergerakan kemerdekaan. Ia bergabung dengan organisasi pemuda dan mulai berkenalan dengan gagasan-gagasan kiri. Masa ini penting karena Hindia Belanda sedang berada dalam tekanan global akibat Perang Dunia II.

Ketika Jepang menduduki Indonesia (1942–1945), situasi politik berubah drastis. Banyak organisasi dibubarkan, tetapi kader-kader politik tetap bergerak secara bawah tanah. Aidit termasuk generasi yang mengalami masa transisi dari kolonial Belanda ke pendudukan Jepang, lalu ke proklamasi kemerdekaan 1945.

4. Keterlibatan dengan PKI

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh Sukarno dan Mohammad Hatta, dinamika politik Indonesia sangat cair. Aidit bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI sendiri sudah berdiri sejak 1920 dan pernah melakukan pemberontakan pada 1926–1927 yang gagal, sehingga sempat dihancurkan oleh Belanda.

Pada akhir 1940-an, terutama setelah Peristiwa Madiun 1948 yang melibatkan unsur PKI dan pemerintah Republik, partai ini kembali mengalami tekanan berat. Namun generasi muda seperti Aidit berperan dalam membangun kembali partai tersebut. Pada awal 1950-an, Aidit bersama rekan-rekannya seperti M.H. Lukman dan Njoto mengambil alih kepemimpinan PKI dan membangun ulang partai dengan strategi yang lebih sistematis dan legal.

5. Transformasi PKI di Bawah Kepemimpinan Aidit

Di bawah kepemimpinan Aidit, PKI berubah menjadi partai massa yang besar. Strateginya bukan lagi pemberontakan bersenjata, tetapi partisipasi dalam sistem politik parlementer. PKI aktif dalam berbagai sektor:

  • Organisasi buruh (SOBSI)
  • Organisasi tani (BTI)
  • Organisasi pemuda (Pemuda Rakyat)
  • Organisasi perempuan (Gerwani)
  • Kegiatan kebudayaan (Lekra)

Pada Pemilu 1955, PKI menjadi partai keempat terbesar di Indonesia—prestasi luar biasa mengingat sejarah represi sebelumnya. Aidit dikenal sebagai organisator yang disiplin, cerdas, dan ideologis. Ia mampu menggabungkan garis ideologi Marxis-Leninis dengan retorika nasionalisme Indonesia.

6. Hubungan dengan Sukarno

Hubungan Aidit dengan Presiden Sukarno cukup erat dalam konteks politik. Sukarno pada akhir 1950-an menerapkan konsep “Nasakom” (Nasionalis, Agama, Komunis) sebagai upaya menyatukan kekuatan politik besar di Indonesia. Dalam konsep ini, PKI mendapatkan ruang legal untuk berpartisipasi dalam politik nasional.

Namun hubungan ini bersifat politis, bukan personal dalam arti keluarga atau keturunan. Aidit tetap seorang kader komunis yang ideologis, sementara Sukarno lebih berorientasi pada persatuan nasional.

7. Konteks Internasional

Pada era Perang Dingin, Indonesia menjadi medan tarik-menarik pengaruh antara blok Barat dan blok Timur. PKI memiliki hubungan ideologis dengan Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Aidit beberapa kali melakukan kunjungan ke negara-negara sosialis. Hal ini memperkuat citranya sebagai tokoh komunis internasional.

8. Peristiwa 1965 dan Akhir Hidup

Pada 30 September 1965 terjadi peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S). Peristiwa ini mengakibatkan terbunuhnya beberapa jenderal TNI. PKI kemudian dituduh sebagai dalang utama. Situasi politik berubah drastis. Jenderal Suharto mengambil alih kendali militer dan secara bertahap kekuasaan negara.

Aidit ditangkap pada November 1965 dan kemudian dieksekusi oleh militer. Setelah itu, PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

9. Kontroversi dan Narasi Sejarah

Sejarah tentang Aidit sangat dipengaruhi oleh politik Orde Baru, yang menggambarkannya sebagai tokoh antagonis utama. Setelah era Reformasi 1998, kajian sejarah menjadi lebih terbuka. Namun tetap tidak ada temuan akademik kredibel yang menunjukkan bahwa Aidit memiliki keturunan Yaman. Isu keturunan sering muncul dalam perdebatan politik identitas, tetapi secara akademik, latar belakangnya tercatat sebagai Melayu Belitung.

10. Kesimpulan

  • DN Aidit lahir di Belitung dari keluarga Melayu asli.
  • Tidak ada bukti sejarah sahih mengenai keturunan Yaman.
  • Mendapat pendidikan kolonial yang membentuk pola pikir modern dan anti-kolonial.
  • Tokoh kunci dalam membangun kembali PKI menjadi kekuatan politik besar (Pemilu 1955).
  • Memainkan peran sentral dalam politik Indonesia era Demokrasi Terpimpin.
  • Wafat pada 1965 di tengah gejolak politik yang mengubah wajah Indonesia.